![]() |
| Poto Istimewa: drh.H.Achsan Nasirul Huda. |
Lifestyle - Memasuki Masa Persiapan Pensiun (MPP), Drh. H. Achsan Nasirul Huda resmi menanggalkan jabatannya sebagai Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP). Sejak Senin, (2/2/2026) ia tidak lagi aktif sebagai pejabat struktural dan kini menjalani fase transisi di Mall Pelayanan Publik (MPP). Namun, bagi banyak orang, kepergian Achsan dari kursi birokrasi bukan sekadar akhir masa tugas, melainkan peralihan menuju ruang pengabdian yang lebih personal dan humanis.
Achsan dikenal bukan hanya sebagai aparatur pemerintah, tetapi juga sebagai musisi sejati. Di sela kesibukan dinas, ia piawai memainkan berbagai alat musik, mulai dari keyboard, harmonika blues, banjo, gitar melodi keroncong, cukulele, hingga bas. Ia juga menciptakan lagu-lagu pop berbahasa Indonesia dan Sasak, bahkan beberapa karyanya pernah diikutkan dalam ajang lomba cipta lagu. Musik, baginya, bukan sekadar hobi, melainkan cara merawat jiwa di tengah rutinitas birokrasi yang padat.
Kebiasaan itu terlihat ketika ia memanfaatkan waktu senggang atau liburan untuk mendatangi kafe-kafe di Kota Selong dan sekitarnya yang menghadirkan pertunjukan live music. Ia tak segan ikut tampil bersama para musisi lokal. “Dengan irama harmonika blues andalan saya, biasanya membawakan lagu-lagu pop dan blues country seperti Iwan Fals, CCR juga Rod Stewart. Kehadiran saya di sana selain menyalurkan hobi bermusik juga ikut mendukung kegiatan UMKM berupa kafe yang menjual makanan ringan di Kota Selong, khususnya di malam Minggu,” kata Achsan. Bahkan, anak-anak band kafe menjulukinya “The Legend” setiap kali ia tampil.
Pengalaman bermusik itu bukan hal baru. Ia mengenang masa kuliahnya di Bali yang juga diwarnai kontrak tampil di hotel dan restoran kawasan Kuta, Sanur, dan Jimbaran.
“Dan ini mengingatkan saya sewaktu kuliah di Bali disibukkan juga dengan kontrak bermain musik country di hotel dan restoran di Kuta, Sanur dan Jimbaran Bali, waktu itu saya pegang banjo dan harmonika,” tuturnya.
Jejak itu menunjukkan bahwa seni telah lama menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan hidupnya. Di lingkungan kerja, Achsan pun dikenal sebagai pemimpin yang egaliter. Farid Wajdi, salah seorang staf DPMPTSP, menggambarkannya sebagai kepala dinas yang sangat dekat dengan bawahan.
“Achsan adalah sosok kepala dinas yang dekat sekali dengan anak buahnya dan hafal nama-nama mereka serta kebiasaannya, padahal beliau waktu itu belum sebulan di sini,” ungkapnya.
Kedekatan personal itu membuat suasana kerja terasa cair dan bersahabat. Ia juga dikenal tidak membedakan jabatan dalam bergaul. Pejabat, pegawai biasa, honorer, hingga sopir pribadi diperlakukan sama. Bahkan, sopir dinas kerap menjadi teman ngobrol terdekatnya saat bertugas. Kebiasaan uniknya saat apel—memberi pertanyaan ringan dengan hadiah saweran—menjadi cara sederhana membangun semangat dan keakraban. Sikap semacam ini memperlihatkan sisi kepemimpinan yang membumi, jauh dari kesan birokrasi yang kaku.
Selama berkarier, Achsan telah menduduki sejumlah jabatan strategis, di antaranya Kepala Dinas Peternakan, Staf Ahli Perekonomian, Asisten Pemerintahan, Kepala Dinas Ketahanan Pangan, hingga terakhir Kepala DPMPTSP. Namun, jabatan yang paling berkesan baginya adalah saat dipercaya sebagai Ketua Harian Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ) Lombok Timur. Ia menilai berbagai prestasi yang diraih selama bertugas merupakan kado terindah dalam pengabdian bagi masyarakat. Kini, memasuki masa persiapan pensiun, Achsan memilih fokus pada kesehatan.
“Saya fokus untuk pemulihan kesehatan saya dulu,” ungkapnya.
Setelah itu, ia berencana membuka kursus musik gratis bagi siapa saja yang berminat. Langkah ini seakan menegaskan bahwa pengabdian tak selalu harus lewat jabatan. Bagi Achsan, nada-nada musik justru menjadi cara baru untuk tetap memberi arti bagi masyarakat—sebuah harmoni antara birokrasi, seni, dan kemanusiaan. (*)
