DurasiNTB

Lugas & Fakta

Iklan

terkini

Tambang Hijau, Masa Depan Biru: Menjaga Bumi di Tengah Pacu Industrialisasi.

Friday, July 24, 2026, July 24, 2026 WIB Last Updated 2026-09-06T13:46:44Z
Gambar Ilustrasi ESDM dan Mesin Tambang. (Sumber: Media DurasiNTB.com).

Oleh : Suyatna (Jurnalis).


Pagi dimulai ketika mesin-mesin tambang bergerak. Material dikeruk dari bumi. Armada pengangkut berjalan membawa hasil tambang. Di tempat lain, pabrik pengolahan bekerja mengubah bahan mentah menjadi material industri.


Roda ekonomi berputar. Tetapi ada pertanyaan yang semakin penting: bagaimana memastikan bumi tetap sehat ketika industri terus tumbuh?


Jawabannya terletak pada perubahan cara pandang terhadap pertambangan. Pertambangan masa depan tidak cukup hanya produktif. Ia harus hijau, bertanggung jawab dan berkelanjutan.


ESG bukan sekadar jargon. 


Environmental, Social and Governance atau ESG mencakup tiga aspek penting.

Pertama, lingkungan.

Kedua, masyarakat.

Ketiga, tata kelola.

Ketiganya harus berjalan bersama.

Kementerian ESDM menegaskan bahwa mineral merupakan sumber daya tidak terbarukan sehingga pengelolaannya harus dilakukan secara bijaksana dan berkelanjutan. 

Artinya, keberhasilan tambang tidak semata dihitung dari tonase produksi.

Ia juga harus dihitung dari bagaimana perusahaan menjaga air, tanah, udara, hutan, keselamatan pekerja dan masyarakat.


Ketika tambang meninggalkan warisan. Sebuah tambang memiliki umur. Tetapi masyarakat akan tetap tinggal. Karena itu, pertanyaan tentang apa yang terjadi setelah tambang berhenti menjadi penting.


Reklamasi dan pemulihan lahan menjadi bagian dari tanggung jawab tersebut. Dalam konsep green mining, teknologi dapat digunakan untuk meningkatkan efisiensi, mengurangi dampak lingkungan, memantau kondisi wilayah operasi dan mengoptimalkan penggunaan energi serta sumber daya.


Namun teknologi saja tidak cukup.


Diperlukan tata kelola yang kuat. Kajian Indonesian Mining Journal pada 2025 menunjukkan bahwa perkembangan hilirisasi memberikan manfaat ekonomi besar, tetapi masih terdapat tantangan berupa persoalan lingkungan, distribusi manfaat dan fragmentasi tata kelola. 


Masyarakat bukan penonton.


Di balik setiap proyek pertambangan ada masyarakat. Mereka bukan sekadar penerima dampak, tetapi harus menjadi bagian dari proses pembangunan.


Pemberdayaan ekonomi, pendidikan, kesehatan, pelatihan, UMKM dan peningkatan kapasitas tenaga kerja merupakan contoh kontribusi sosial yang dapat memperkuat hubungan antara perusahaan dan masyarakat.


Investasi yang baik bukan hanya membangun pabrik. Investasi juga membangun manusia. Data BKPM menunjukkan investasi Indonesia pada 2024 mencapai Rp1.714,2 triliun dan menyerap sekitar 2,4 juta tenaga kerja. 


Tantangannya adalah memastikan pertumbuhan tersebut menciptakan manfaat yang semakin luas, termasuk bagi masyarakat di daerah penghasil mineral.


Menjadi kekuatan ekonomi hijau.


Mineral Indonesia semakin penting dalam transisi energi global. Nikel dan berbagai mineral kritis dibutuhkan untuk industri teknologi dan energi masa depan. Karena itu, Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi bagian penting dari rantai pasok ekonomi hijau.


Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM sendiri mendorong pengembangan mineral kritis sebagai bagian dari agenda ekonomi hijau dan hilirisasi. Tetapi kesempatan itu harus dikelola dengan prinsip keberlanjutan.


Indonesia tidak boleh memilih antara ekonomi dan lingkungan. Keduanya harus berjalan bersama.


Karena masa depan pertambangan bukan hanya tentang berapa banyak yang dapat diambil dari bumi, tetapi juga berapa banyak yang dapat dijaga untuk generasi berikutnya.


(Sumber: Data Kementerian ESDM, Indonesia Minerals Yearbook 2024.Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, agenda mineral kritis dan investasi berkelanjutan. BKPM, data realisasi investasi 2024. Indonesian Mining Journal, kajian hilirisasi dan tata kelola lingkungan). 

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Tambang Hijau, Masa Depan Biru: Menjaga Bumi di Tengah Pacu Industrialisasi.

Terkini