![]() |
| Lalu Sapardi, Perintis dan Penanggung Jawab PLTMH Dusun Karang Petak Desa Aikmel Utara. (Dok. Media DurasiNTB.com). |
Feature | Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat.
LOMBOK TIMUR – Tidak semua orang rela kehilangan sesuatu yang dimilikinya demi kepentingan orang lain. Namun, bagi Lalu Sapardi (43), seorang petani di Dusun Karang Petak, Desa Aikmel Utara, Kecamatan Aikmel, Kabupaten Lombok Timur, menjual satu-satunya sepeda motor bukanlah perkara yang harus disesali. Ada sesuatu yang jauh lebih besar yang ingin diwujudkannya: menghadirkan cahaya bagi masyarakat yang bertahun-tahun hidup tanpa penerangan listrik.
Kisah itu bermula pada 2008. Saat jaringan listrik PLN belum menjangkau wilayahnya, warga Dusun Karang Petak masih hidup dalam keterbatasan penerangan. Malam hari menjadi waktu yang tidak mudah bagi sebagian masyarakat. Rumah-rumah belum diterangi listrik sebagaimana yang dinikmati masyarakat di wilayah lain.
Di tengah keadaan itu, Sapardi justru melihat peluang dari sesuatu yang selama ini dekat dengan kehidupan masyarakat, yakni aliran air. Sebagai seorang petani, ia terbiasa berhadapan dengan air untuk kebutuhan pertanian. Namun, pikirannya melangkah lebih jauh. Bagaimana jika aliran air tersebut tidak hanya mengairi sawah, tetapi juga mampu menghasilkan listrik?
Dari pemikiran sederhana itulah sebuah ikhtiar besar dimulai.
Berbekal pengetahuan otodidak, Sapardi mulai mempelajari cara kerja pembangkit listrik tenaga air. Ia mengamati, mencoba, dan merakit sendiri peralatan sederhana untuk menggerakkan turbin. Tidak ada laboratorium, tidak ada pendidikan khusus tentang pembangkit listrik. Yang dimilikinya hanyalah kemauan belajar, keberanian mencoba, dan kepedulian terhadap kebutuhan masyarakat.
Lahan sekitar dua are menjadi tempat awal pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH). Dengan kemampuan dan peralatan seadanya, ia berhasil menghasilkan daya sekitar 3 kilowatt-hour (kWh). Angka yang mungkin terlihat kecil, tetapi saat itu menjadi awal hadirnya harapan baru bagi warga Karang Petak.
Perjuangan tersebut tidak berjalan tanpa pengorbanan. Dana yang dimiliki sebagai seorang petani tentu terbatas. Bantuan sebesar Rp2,5 juta yang diperoleh pada 2008 belum cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan pembangunan. Sapardi akhirnya mengambil keputusan berat dengan menjual satu-satunya sepeda motor miliknya.
Bagi seorang petani, sepeda motor bukan sekadar alat transportasi. Kendaraan itu juga menjadi penunjang aktivitas sehari-hari. Namun, Sapardi memilih mengorbankannya demi memastikan pembangkit sederhana yang dirintisnya dapat terus dikembangkan.
Baginya, persoalan listrik bukan hanya urusan kebutuhan pribadi. Ada puluhan keluarga yang menaruh harapan pada usaha kecil yang sedang dibangunnya.
Dari 18 Rumah Menuju Puluhan Keluarga
Perlahan, perjuangan Sapardi mulai mendapat perhatian. Pada 2009, Bupati Lombok Timur saat itu, H. Sukiman Azmy, turun langsung meninjau lokasi pembangkit yang dirintis secara swadaya tersebut.
Perhatian pemerintah kemudian diwujudkan melalui bantuan Rp50 juta pada 2010. Bantuan itu menjadi dorongan bagi pengembangan pembangkit, termasuk perbaikan sistem transmisi agar jangkauan listrik semakin luas.
Dari yang semula hanya mampu menerangi sekitar 18 kepala keluarga (KK), PLTMH tersebut kemudian berkembang hingga menjangkau sekitar 75 KK.
Perjalanan itu semakin berkembang setelah Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memberikan dana hibah sekitar Rp700 juta untuk pembangunan unit pembangkit.
Pembangunan dilaksanakan oleh kontraktor, sementara Sapardi turut mengawasi prosesnya di lapangan.
Unit pembangkit hasil pengembangan tersebut mulai beroperasi sekitar Desember 2012 dengan kapasitas awal mencapai 25 kWh. Sebuah pencapaian yang tidak pernah terbayangkan ketika Sapardi pertama kali merakit pembangkit sederhana menggunakan peralatan seadanya.
Namun, perjalanan waktu membawa tantangan baru. Kapasitas daya yang dapat dimanfaatkan kini diperkirakan berkisar 15 hingga 18 kWh. Sebagian debit air juga dimanfaatkan untuk kebutuhan jaringan perpipaan air bersih.
Saat ini, sekitar 43 KK masih menjadi pelanggan aktif yang tersebar di Dusun Karang Petak, Desa Aikmel Utara, dan Dusun Akar, Desa Toya. Mayoritas pelanggan menggunakan sambungan listrik berdaya 450 VA.
PLN Hadir, Kepedulian Sapardi Tidak Berakhir
Sekitar 2012, jaringan listrik PLN mulai menjangkau wilayah Karang Petak. Kehadiran listrik negara tentu menjadi kabar baik bagi masyarakat. Warga memiliki pilihan untuk memperoleh layanan penerangan yang lebih luas.
Namun, bagi PLTMH yang dibangun dengan penuh pengorbanan itu, kehadiran PLN menjadi tantangan tersendiri. Sebagian pelanggan mulai beralih menggunakan listrik PLN. Jumlah pengguna berkurang, begitu pula pendapatan pengelolanya.
Dari iuran masyarakat berdasarkan pemakaian listrik melalui kWh meter, pendapatan kotor PLTMH saat ini rata-rata hanya sekitar Rp800 ribu per bulan.
Di beberapa wilayah, kondisi pasokan listrik juga tidak sama. Warga yang tinggal dekat pembangkit masih menikmati pasokan relatif stabil. Sementara itu, di Dusun Akar yang berada di ujung jaringan, tegangan listrik cenderung menurun sehingga PLTMH lebih banyak dimanfaatkan sebagai sumber listrik cadangan.
Secara ekonomi, hasil yang diperoleh tentu tidak lagi sebanding dengan masa ketika pembangkit tersebut menjadi sumber penerangan utama. Namun, Sapardi tidak memilih berhenti.
Ia tetap mempertahankan PLTMH karena merasa memiliki tanggung jawab moral terhadap masyarakat yang selama ini telah merasakan manfaatnya. Bahkan, listrik yang dihasilkan tidak hanya digunakan untuk rumah tangga. Penerangan jalan, masjid, musala, serta tempat anak-anak mengaji tetap mendapatkan manfaat secara gratis.
Di titik inilah perjuangan Sapardi menemukan makna yang lebih luas. Pembangkit itu bukan lagi sekadar mesin yang menghasilkan listrik, melainkan bagian dari kehidupan masyarakat yang telah tumbuh bersama perjalanan waktu.
Menjaga Air, Menjaga Kehidupan
Ada hal lain yang membuat keberadaan PLTMH Karang Petak memiliki arti penting bagi masyarakat, yakni keterkaitannya dengan kebutuhan irigasi pertanian.
Sebagai seorang petani, Sapardi memahami bahwa air merupakan sumber kehidupan yang tidak boleh hanya dipandang dari satu kepentingan. Karena itu, pengelolaan pembangkit dilakukan dengan tetap memperhatikan kelancaran aliran air untuk kebutuhan pertanian.
Prinsip kerja PLTMH hanya memanfaatkan tenaga aliran air untuk menggerakkan turbin. Airnya tetap dialirkan kembali melalui saluran sebagaimana fungsi awalnya.
Material pasir dan sampah yang terbawa aliran air juga disaring secara berkala agar tidak merusak turbin maupun menyumbat saluran irigasi.
Dengan pengelolaan tersebut, keberadaan pembangkit tidak hanya memberikan manfaat energi, tetapi juga tetap memperhatikan kebutuhan masyarakat terhadap air untuk mengairi lahan pertanian.
Harapan yang Belum Padam
Hampir dua dekade sejak pertama kali dirintis, Sapardi masih menyimpan harapan agar PLTMH Karang Petak tidak berhenti beroperasi. Ia menyadari bahwa mempertahankan pembangkit tidak semudah membangunnya. Ada kebutuhan perawatan, biaya operasional, serta perbaikan infrastruktur yang harus dipenuhi.
Salah satu kebutuhan mendesak adalah pengadaan transformator atau trafo untuk membantu menstabilkan tegangan listrik yang disalurkan kepada pelanggan. Namun, pengadaannya membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
Bersama sejumlah anggota, Sapardi telah membentuk lembaga bernama Sinar Mandiri untuk mendukung keberlangsungan pengelolaan PLTMH. Melalui lembaga tersebut, ia berharap pembangkit yang dirintisnya dapat memiliki pengelolaan lebih terorganisasi dan memperoleh peluang kerja sama dengan pihak lain.
Harapan terbesarnya adalah menjalin kemitraan dengan PLN melalui skema on-grid, sehingga pembangkit yang dikelolanya dapat terhubung dengan jaringan listrik PLN melalui kerja sama resmi.
Namun, rencana tersebut masih menghadapi kendala persyaratan teknis, terutama terkait kebutuhan debit air dan kapasitas pembangkit. Ia berharap ada peluang dan solusi agar PLTMH berskala kecil seperti miliknya tetap mendapatkan kesempatan untuk berkembang.
Sebagai seorang petani sekaligus ayah dari tiga anak, Sapardi mungkin tidak pernah membayangkan bahwa gagasan sederhana yang lahir dari keprihatinan pada 2008 akan bertahan hingga hampir dua dekade kemudian.
Ia pernah mengorbankan satu-satunya sepeda motor, mengeluarkan dana pribadi, belajar secara otodidak, dan menghadapi berbagai keterbatasan demi menghadirkan penerangan bagi masyarakat.
Kini, ketika listrik PLN telah hadir, ia tetap memilih menjaga pembangkit itu. Bukan semata-mata karena pendapatan yang diperoleh, melainkan karena masih ada manfaat yang bisa diberikan kepada orang lain.
Barangkali bagi sebagian orang, PLTMH Karang Petak hanyalah pembangkit listrik kecil di sebuah dusun. Namun, bagi masyarakat yang pernah merasakan gelapnya malam sebelum listrik hadir, pembangkit itu menyimpan sejarah dan kenangan tersendiri. Sebab, cahaya yang pernah menerangi rumah-rumah mereka bukan hanya lahir dari putaran turbin dan derasnya aliran air. Di baliknya ada pengorbanan seorang petani yang rela kehilangan satu-satunya kendaraan demi sebuah harapan bersama.
Dan selama aliran air masih berputar, Sapardi masih ingin menjaga cahaya itu tetap menyala.
Penulis : Suyatna (Wartawan & Editor)

