![]() |
| Lalu Sapardi, Penanggung Jawab PLTMH Dusun Karang Petak Desa Aikmel Kecamatan Aikmel Kabupaten Lombok Timur. (Dok: DurasiNTB). |
LOMBOK TIMUR – Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) di Dusun Karang Petak, Desa Aikmel Utara, Kecamatan Aikmel, Kabupaten Lombok Timur Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), masih bertahan dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat meskipun jaringan PLN kini telah menjangkau wilayah tersebut.
Pembangkit berbasis tenaga air ini memiliki kapasitas daya yang dapat dimanfaatkan sekitar 15 kilowatt hour (kWh) dan masih melayani sekitar 43 Kepala keluarga (KK) di Dusun Karang Petak dan Dusun Akar.
Penanggung jawab sekaligus Kepala Dusun Karang Petak, Lalu Sapardi mengatakan, pihaknya siap bermitra dan membuka ruang bagi siapa saja yang mau menggunakan PLTMH yang telah dimulainya sejak tahun 2008 itu, terutama dengan PLN.
Harapan terbesarnya adalah dapat bermitra dengan PLN melalui skema on-grid, yakni menghubungkan pembangkit listrik yang dikelolanya dengan jaringan PLN melalui nota kesepahaman atau kerja sama resmi. Mengingat diakuinya, salah satu kebutuhan mendesak adalah pengadaan transformator atau trafo untuk membantu menstabilkan tegangan listrik yang disalurkan kepada pelanggan. Namun, kebutuhan tersebut tentu membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
"Saya sangat berharap kepada PLN agar mau bermitra dengan kami, karena cost untuk operasionalnya besar", ungkapnya saat ditemui Media DURASINTB.com di kediamannya di Dusun Petak, Rabu (4/11/2026).
Ia menceritakan kisah perjalanan panjang pembangkit dari tenaga Mikrohidro mulai dari inisiatif menggunakan alat seadanya hingga demi biaya operasional, pembelian transmisi dan kabel penghubung, dia rela kehilangan sepeda motor satu-satunya miliknya. Pada tahun 2008, wilayahnya belum terjangkau listrik PLN, sementara kebutuhan masyarakat terhadap penerangan cukup tinggi.
"Jadi ceritanya panjang, pada 2008 saya bangun dengan dana pribadi. Waktu itu Dusun Karang Petak belum ada listrik. Masyarakat sangat menginginkan penerangan, jadi saya merasa ikut bertanggung jawab untuk bisa melayani," tuturnya.
Berbekal pengetahuan otodidak, Sapardi merakit pembangkit sederhana dengan kapasitas awal sekitar 3 kWh. Hasil usahanya kemudian berbuah manis karena mendapat perhatian dari Pemerintah daerah. Pada tahun 2010, PLTMH skala kecil tersebut memperoleh bantuan Rp50 juta dari Bupati Lombok Timur yang saat itu dijabat H. Sukiman Azmy.
Selanjutnya, pembangkit tersebut kembali mendapat dana hibah sekitar Rp700 juta dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Pembangunan unit melalui bantuan tersebut dilakukan pada 2012 dan mulai beroperasi sekitar Desember tahun yang sama dan menghasilkan daya mencapai 25 kWh.
Namun, seiring perjalanan waktu debit air menurun sehingga kapasitas daya yang dapat dimanfaatkan saat ini berkurang menjadi sekitar 15 kWh. Faktor lain yang menyebabkan penurunan adalah karena sebagian debit air juga digunakan untuk kebutuhan jaringan perpipaan air bersih.
Masuknya jaringan PLN sekitar 2012 membuat sebagian pelanggan beralih menikmati layanan PLN. Saat ini, pendapatan PLTMH untuk biaya operasional rata-rata sekitar Rp800 ribu per bulan dari iuran pelanggan berdasarkan pemakaian listrik melalui kWh meter.
Meski demikian, Mik Adi sapaan akrabnya, tetap mempertahankan pembangkit tersebut karena dianggap masih memberikan manfaat bagi masyarakat. Selain melayani pelanggan rumah tangga, listrik PLTMH juga dimanfaatkan secara gratis untuk penerangan jalan, masjid, mushola, dan tempat anak-anak mengaji.
Tanggung jawab dan rasa memiliki membuatnya bersama anggota lainnya yang tergabung dalam lembaga Sinar Mandiri tetap eksis. Ia pun berkomitmen untuk tidak menjadikan PLTMH yang dirintisnya dari nol menjadi ladang usaha namun lebih kepada daya yang bisa dijadikan suku cadang manakala PLN padam. Selain juga membantu warga saat membutuhkan daya yang lebih besar.
"Ini adalah suku cadang bagi PLN, jadi pendapatan bukan menjadi orientasi utama, karena bagaimanapun saya yang mengawali pembangunan PLTMH ini, sekalipun pendapatannya kurang, tetap kita usahakan agar bisa berjalan", imbuhnya.
Menurutnya, selama ini keberadaan PLTMH juga tidak mengganggu kebutuhan irigasi pertanian. Sistem pembangkit hanya memanfaatkan tenaga aliran air untuk menggerakkan turbin, sedangkan airnya tetap dialirkan sebagaimana biasanya.
"Airnya tetap mengalir seperti biasa. Kita hanya mengambil tenaganya. Kalau ada pasir atau sampah yang terbawa aliran air, kita saring dan bersihkan supaya tidak mengganggu saluran irigasi masyarakat," jelasnya.
Ia berharap, PLTMH Karang Petak tetap dipertahankan meskipun PLN telah hadir. Baginya, pembangkit tersebut bukan sekadar sumber energi alternatif, melainkan hasil swadaya masyarakat yang telah memberikan manfaat sejak sebelum jaringan listrik negara menjangkau wilayahnya.
"Untuk mengawali, ini adalah murni hasil swadaya, jadi yang terpenting adalah pembangkit ini bisa tetap berjalan dan memberikan manfaat," tutupnya. (DN_1)
Wartawan: Suyatna

