DurasiNTB

Lugas & Fakta

Iklan

terkini

Peletakan Batu Pertama ITSRC di Ekas, Wamen Stella: “Bukan Seremonial, Ini Langkah Nyata Wujudkan Indonesia Pusat Rumput Laut Dunia”.

Thursday, February 12, 2026, February 12, 2026 WIB Last Updated 2026-02-13T05:46:32Z
Bupati Lotim Drs.H.Haerul.Warisin Saat Mendampingi Wamen Diktisaintek Stella Christie di Desa Ekas Buana. Kamis malam, (12/2/2026).


Lombok Timur - Pemerintah menargetkan Indonesia menjadi pusat rumput laut dunia guna mendorong pertumbuhan ekonomi, khususnya bagi masyarakat pesisir. Salah satu langkah strategis dimulai di Kabupaten Lombok Timur melalui pembangunan pusat riset rumput laut tropis internasional atau International Tropical Seaweed Research Center (ITSRC) dan Laboratorium Spesialis Kedokteran Kepulauan di Desa Ekas Buana Kecamatan Jerowaru.


Program yang diinisiasi sejak Mei 2025 ini merupakan kerja sama Pemerintah Kabupaten Lombok Timur dengan Universitas Mataram (Unram) serta mendapat dukungan penuh dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek). Peletakan batu pertama dilakukan oleh Wakil Menteri Stella Christie pada Kamis (12/2) malam, di tengah gerimis yang tidak menyurutkan semangat para pihak yang hadir.


Bupati Lombok Timur H. Haerul Warisin menyampaikan harapannya agar keberadaan ITSRC dan para peneliti nantinya mampu menghasilkan bibit rumput laut unggul yang berdampak langsung pada peningkatan ekonomi masyarakat. 


Dalam sambutan selamat datangnya, ia menegaskan bahwa Lombok Timur memiliki potensi besar dengan kualitas rumput laut yang belum dikembangkan secara optimal. Karena itu, kehadiran pusat riset ini diharapkan menjadi titik awal penguatan sektor kelautan dan perikanan daerah.


Rektor Unram Bambang Hari Kusumo meyakini sambutan hangat Pemerintah Kabupaten Lombok Timur terhadap pembangunan ITSRC dan laboratorium beserta fasilitas pendukungnya akan berkontribusi pada pembangunan ekonomi masyarakat. 


Ia menjelaskan bahwa ITSRC dirancang sebagai pusat penelitian rumput laut tropis dunia yang berkolaborasi dengan peneliti internasional untuk mengatasi berbagai permasalahan dalam peningkatan kualitas dan produktivitas rumput laut.


“Enam bulan ke depan sudah mulai membangun. Lahan lokasi pembangunan ini hibah Pemda Lombok Timur. Harapan kami ke depan, akan membuat masyarakat di sini terlayani kesehatannya, dan mengembangkan kawasan untuk sentra produksi rumput laut,” ujarnya.


Bambang juga menyebut klinik kedokteran spesialis kepulauan yang akan dibangun sebagai satu-satunya di Indonesia dan menjadi satu dari tujuh program pendidikan dokter spesialis di Unram. 


Menurutnya, pembangunan tersebut tidak sekadar menghadirkan klinik, tetapi juga menyiapkan dokter dan fasilitas pendukung untuk meningkatkan pelayanan kesehatan masyarakat di wilayah kepulauan.


Wakil Menteri Stella Christie menekankan bahwa pembangunan ini harus berdampak nyata bagi masyarakat. Ia menyatakan cita-cita menjadikan Indonesia sebagai pusat rumput laut dunia harus dimulai dari sekarang dan tidak berhenti pada seremoni semata. 


Pemerintah melalui Kemendiktisaintek telah menggandeng dua institusi riset terkemuka dunia, yakni University of California, Berkeley dan Beijing Genomics Institute, yang dinilai terdepan dalam riset dan pengembangan, termasuk di bidang rumput laut.


“Peletakan batu pertama ini bukan seremonial. Kami sudah menggandeng industri nasional, agar bisa membentuk ekosistem rumput laut. Kami juga sudah merangkul dua kekuatan besar sains dunia di Amerika dan Cina. Ingat, tujuan riset untuk meningkatkan pengetahuan agar meningkatkan pendapatan dan perekonomian kita,” ungkapnya.


Ia menambahkan, jika di Indonesia tidak ada riset sains dan teknologi, Indonesia tidak akan dapat dari ribuan triliun yang berputar di perekonomian dunia.

Menurut Stella, setiap inovasi harus berbasis riset sebagaimana dilakukan negara-negara dengan ekonomi kuat. 


Selain itu, pemerintah juga melibatkan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) untuk mendukung aspek ekonomi dan ketenagakerjaan. Saat ini Indonesia telah menjadi produsen rumput laut tropis terbesar di dunia dengan penguasaan sekitar 75 persen pangsa pasar global. 


Nilai pasar rumput laut tropis mencapai USD 12 miliar atau sekitar Rp198 triliun dan diproyeksikan terus meningkat seiring berkembangnya teknologi hilirisasi, mulai dari pupuk, plastik ramah lingkungan, hingga bahan bakar seperti bioavtur.


Pada kesempatan tersebut, Bupati Lombok Timur juga menandatangani kerja sama dengan enam rektor perguruan tinggi se-Lombok Timur, yakni ITSKES Muhammadiyah, Universitas Hamzanwadi, IAIH Pancor, UGR, STIT Palapa, dan Elkatari, sebagai bentuk penguatan kolaborasi pendidikan dan riset dalam mendukung pengembangan industri rumput laut di daerah tersebut. (*DN)

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Peletakan Batu Pertama ITSRC di Ekas, Wamen Stella: “Bukan Seremonial, Ini Langkah Nyata Wujudkan Indonesia Pusat Rumput Laut Dunia”.

Terkini