![]() |
| Kepala Dinas Damkar Mat Lombok Timur Widayat Didampingi Kepala Bidang Penyelamatan Di Ruang Kerjanya Di Selong. Senin (31/8). |
LOMBOK TIMUR – Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DamkarMat) Kabupaten Lombok Timur (Lotim) menghadapi tantangan dalam memberikan pelayanan optimal kepada masyarakat. Keterbatasan armada serta luasnya wilayah pelayanan diakuinya menjadi kendala utama yang hingga kini masih dihadapi.
Kepala Dinas Damkar Lombok Timur, Widayat, yang baru menjabat sekitar dua bulan, menyampaikan kondisi tersebut saat ditemui media ini di ruang kerjanya, Senin (31/8/2026).
Menurutnya, waktu respons petugas pemadam kebakaran saat menerima laporan rata-rata mencapai 15 menit, tergantung lokasi kejadian.
"Wilayah pelayanan kami mencakup Sembalun, Sambalia, Pringgabaya, Terara, dan Keruak. Namun, dengan wilayah Lombok Timur yang sangat luas, ketersediaan armada yang ada masih sangat terbatas," jelas Widayat.
Saat ini, Damkar Lombok Timur memiliki tujuh unit armada. Dari jumlah tersebut, hanya lima unit yang dalam kondisi siap operasi, sementara dua unit lainnya masih dalam proses perbaikan. Kondisi tersebut dinilai belum sebanding dengan luas wilayah Kabupaten Lombok Timur yang harus mendapatkan pelayanan.
Widayat menjelaskan, berdasarkan standar Peraturan Menteri Dalam Negeri, idealnya setiap kecamatan memiliki satu pos pemadam kebakaran. Namun, kondisi di Lombok Timur saat ini belum memenuhi standar tersebut.
"Di 21 desa yang terbagi menjadi lima wilayah kerja dan satu markas komando, kondisi ini belum memenuhi standar," katanya.
Menurutnya, idealnya setiap dua kecamatan setidaknya dilayani oleh satu posko pemadam kebakaran. Dengan kondisi wilayah Lombok Timur yang luas, dibutuhkan minimal 21 Wilayah Manajemen Kebakaran (WMK) untuk memastikan seluruh wilayah dapat terjangkau pelayanan Damkar.
Menghadapi keterbatasan tersebut, Damkar Lombok Timur membekali seluruh anggotanya dengan kemampuan multi-talent. Petugas tidak hanya dituntut mampu melakukan pemadaman kebakaran, tetapi juga memiliki kemampuan dalam berbagai operasi penyelamatan.
"Satu orang petugas tidak hanya mampu memadamkan api, tetapi juga bertugas dalam operasi penyelamatan mulai dari evakuasi hewan berbisa seperti ular dan biawak, hingga pemotongan cincin yang menjepit jari," ujar Widayat.
Ia menambahkan, setiap petugas memang memiliki keahlian khusus masing-masing. Namun, seluruh personel tetap dituntut menguasai berbagai bidang tugas agar dapat memberikan pelayanan penyelamatan secara maksimal kepada masyarakat.
Selain persoalan armada dan fasilitas, perilaku masyarakat juga menjadi tantangan tersendiri dalam upaya pencegahan kebakaran. Widayat menyebut masih banyak warga yang melakukan pembakaran lahan tanpa perencanaan dan kemudian meninggalkannya begitu saja.
"Masih banyak warga yang membakar lahan tanpa perencanaan, lalu meninggalkannya begitu saja. Ketika api sudah merambat dan tidak terkendali, baru dilaporkan ke petugas," ungkapnya.
Karena itu, Widayat mengimbau masyarakat agar lebih bijak ketika melakukan pembakaran lahan. Area yang akan dibakar harus dipisahkan dari area lainnya untuk mencegah api merambat dan menimbulkan kebakaran yang lebih luas.
Ke depan, DamkarMat Lombok Timur berencana membentuk sistem pos pelayanan terpadu. Melalui sistem tersebut, masyarakat nantinya cukup menghubungi satu nomor call center ketika membutuhkan layanan pemadam kebakaran maupun penyelamatan.
"Laporan dari masyarakat nantinya akan didistribusikan ke posko terdekat, sehingga tidak terjadi tumpang tindih penugasan dan respons menjadi lebih cepat dan tepat," terang Widayat.
Dengan rencana tersebut, pihaknya berharap pelayanan kepada masyarakat dapat semakin efektif. Sistem pelayanan yang terintegrasi juga diharapkan mampu mempercepat penanganan kejadian sekaligus memperluas jangkauan pelayanan hingga ke seluruh wilayah Kabupaten Lombok Timur. (*Ain)
